Vandalisme terhadap kereta api
Oktober 21, 2008 at 13:36 | In Opinion | Leave a CommentKereta api listrik sebagai alat transportasi harian saya ternyata tidak luput dari aksi iseng segelintir oknum. Tidak cuma kereta antar kota saja yang rawan kena lemparan batu! >_<
Bagaimana rasanya ya bagi orang yang kebetulan apes duduk tepat di belakang kaca itu. Mungkin dia tidak ada salah apa-apa sama oknum-oknum iseng yang melempar batu, eh.. malah jadi korban keisengan. Begitu pula dengan para oknum iseng itu, apa tidak mikir batu yang mereka lemparkan itu bisa membahayakan nyawa seseorang? Seperti berita yang saya baca dari Warta Kota edisi Jumat 26 September 2008: “Asisten Masinis Dilempar Batu | Selaput Kornea Kanan Robek”. Sang asisten masinis ini diceritakan juga pernah mengalami peristiwa serupa sehingga dia tidak bisa menjadi masinis lagi.
Segitu kurang kerjaan kah sampai tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain melempar batu ke kereta lewat? Memang susah kalau mau mencari siapa pelaku-pelaku pelemparan batu itu. Setidaknya, semoga mereka-mereka yang pernah berbuat iseng melempar batu itu bisa sadar kalau yang mereka lakukan itu salah. Amin.
Untuk apakah kita belajar?
Oktober 15, 2008 at 19:05 | In Life, Opinion | 3 CommentsKetika ada worksheet suatu mata kuliah yang beberapa jam lagi harus dikumpulkan namun saya masih kurang memahami materi di worksheet tersebut, ada dua pilihan yang bisa saya pilih:
- Kumpulkan apa adanya, karena hanya memang mengerti segitu. Berarti saya harus mempelajari lebih materi tersebut di luar jam pelajaran.
- Mengerjakan bersama teman. Mungkin teman tersebut boleh secara langsung ada di hadapan kita atau tidak. Tahu kan kenapa saya bold (dan italic pula) kata ‘bersama’ itu?
Jika saya memilih pilihan nomor 1.. ok, berarti saya memang kurang menguasai materi tersebut atau kurang berusaha untuk dapat memahami materi tersebut. Masalah nilai itu di tangan dosen, dengan kemungkinan nilai yang akan saya dapatkan mungkin di bawah rata-rata teman-teman saya yang mengumpulkan worksheet terisi penuh.
Jika saya memilih pilihan nomor 2.. hmm, tidak direkomendasikan dalam lingkungan akademis sebetulnya, tetapi.. demi nilai gitu loh. Yang penting gue lulus.. masalah mengerti atau nggak, itu belakangan.
Apakah kita mau dengan jujur mengakui bahwa kita tidak mengerti dengan materi pelajaran tersebut, atau kita lebih mengagungkan nilai dibandingkan dengan pemahaman kita mengenai materi pelajaran?
Sekian. Terima kasih.
Harapan Dari Kesan
September 4, 2008 at 21:38 | In Life, Opinion | 5 CommentsDalam minggu-minggu awal kuliah ini, sudah merupakan kebiasaan jika ada mahasiswa-mahasiswa angkatan baru yang disibukkan untuk berkenalan dengan kakak-kakak seniornya. Menyenangkan memang, melihat mahasiswa-mahasiswa baru yang masih lugu, imut, lucu-lucu, dan penuh semangat dalam menyambut kehidupan kampus. Salah satu hal yang mereka harus dapatkan adalah kesan yang ditulis oleh senior atau oleh mahasiswa baru sendiri mengenai kakak senior yang berkenalan dengannya.
Bagaimana dengan kesan-kesan yang telah saya dapatkan sejauh ini? Mungkin saya akan memberikan beberapa komentar mengenai kesan-kesan tersebut disini…
- “Asik” /* Hm..? Sejak kapan ya saya orangnya asik? Sejauh ini saya orangnya cenderung serius. ^^; */
- “Ramah” /* Relatif ya.. Saya sering lho jalan lewatin orang dengan begitu cueknya. :p */
- “Jawa medhok” /* Aku ora iso boso Jowo dengan lancar kok dibilang medhok? Yah.. kadang memang logat bicara saya rada medhok. ^^ */
- “Komunikatif” /* Manusia 1/3 hikikomori ini dibilang komunikatif?!
*/ - “Otaku” /* Akhirnya… ^^ *mengepalkan tangan kanan sambil terharu* */
- “Anak **” /* Apapun jurusan dan jalur masuknya, minumnya teh botol S***o kita semua itu belajar di fakultas yang sama.
*/ - “Belum kawin” (kalau tidak salah) /* Ok.. kesan yang kreatif.. ^^; */
- “Suara berat” /* Padahal saya pingin lho punya suara seperti Sakura Saori atau Sakakibara Yui.. =)) */
Terlepas dari kemungkinan beberapa komentar saya yang mungkin ada nada sarkasme atau ironi di dalamnya, saya juga berharap kesan-kesan positif yang telah diberikan oleh para mahasiswa baru itu merupakan doa bagi saya untuk dapat memperbaiki sisi kemanusiaan saya menjadi lebih baik. Amin!
Susu saja kok repot.. -_-
Maret 5, 2008 at 12:10 | In Opinion | 3 CommentsAkhir-akhir ini, dalam hati saya bertanya-tanya.. “Kenapa kok ibu-ibu pada panik susu bayi tercemar bakteri? Padahal tepat di bawah mata mereka itu ada susu GRATIS buat anaknya…
“
Itu dia, daripada panik sama susu kena bakteri Uzumaki naruto.. eh bakteri Sakazaki
, ‘kan bisa menyusu ke Ibu masing-masing. Susu Ibu itu adalah salah satu benda gratis di dunia yang bisa dinikmati setiap insan manusia sewaktu masih kecil.
Memang sih karena sekarang modernisasi dan ditambah makin banyaknya wanita karir, ibu-ibu jaman sekarang lebih memilih untuk memberikan susu formula karena sibuk bekerja atau hal-hal lain yang mungkin bagi seorang lelaki seperti saya tidak dapat mengerti. Tetapi.. susu cap bukit kembar itu sudah terjamin kok kualitasnya. Dalam Islam pun di surat Al-Baqarah ayat 233, para ibu dihimbau untuk menyusui anak-anak mereka dengan ASI selama dua tahun genap (disadur dari iLuvislam).
Tetapi yah.. sebagai lelaki yang belum punya istri dan masih kurang berpengalaman dengan wanita di dunia nyata, saya tidak tahu harus memberikan solusi apa untuk permasalahan ini. Cuma ingin mengingatkan saja kalau masih ada susu yang menyehatkan, halal, terjamin kualitasnya, dan gratis tentunya.
Game porno?! Hm.. seharusnya game khusus dewasa :P
Februari 23, 2008 at 13:42 | In Game, Opinion | 4 CommentsKoran Warta Kota akhir-akhir ini headline korannya benar-benar menarik perhatian saya. Tanggal 20 Februari kemarin headlinenya berjudul “Remaja Maniak Game Porno”, lalu esok harinya berjudul “Orangtua Resah Game Porno”. Iseng punya iseng, saya coba beli saja dua edisi Warta Kota itu. Setelah dibaca perlahan-lahan dan secara seksama (terlalu hiperbolis ya saya?
), hati saya tergelitik untuk sedikit mengomentari akan permasalahan mengenai game porno ini.
Continue reading Game porno?! Hm.. seharusnya game khusus dewasa :P…
Tertib dalam berkeretaapi? Masih jauh sepertinya..
Februari 14, 2008 at 14:51 | In Opinion | 2 CommentsMasih ingat berita ketika PT. KA menggembor-gemborkan apa yang dinamakan “Bulan Tertib Kereta Api” pada tanggal 10 Pebruari kemarin? Memang betul pas tanggal 10 kemarin orang-orang banyak yang tidak berani naik ke atap kereta api karena di beberapa stasiun sudah menunggu gerombolan pasukan buser untuk menyemprotkan cat ke orang di atap kereta. Di Manggarai sendiri terdapat banyak wartawan yang menunggu kesempatan untuk mengabadikan aksi ‘penyemprotan’ yang dilakukan petugas keamanan PT. KA.
Tapi seperti biasa, masyarakat kita ini memang ‘ya begitulah..’. Tertib sehari dua hari, beberapa hari sesudahnya udah berantakan lagi. -_- Pasukan penyemprot sepertinya cuma kerja jika ada wartawan yang meliput. (cuma ingin numpang terkenal kali ya..) Manusia-manusia penghuni atap kereta masih saja banyak. Kemarin saya naik kereta api melewati Cawang di sore hari, kereta ekonomi dari arah Manggarai itu di atapnya mungkin bisa dibilang sudah terisi penuh.
Selain dari kasus para manusia penantang maut itu, masih bisa ditemukan pedagang asongan, pedagang koran, pengamen, penyapu lantai, pe[insert job name here], dll berkeliaran di gerbong-gerbong kereta ekonomi. Apakah PT. KA benar-benar serius dalam menertibkan dunia perkeretaapian di Jakarta ini? Padahal mereka sudah memasang spanduk tentang aturan dan pasal-pasal mengenai ‘tertib berkeretaapi’ ini di stasiun-stasiun. Langkah mereka dengan mengganti beberapa rangkaian kereta ekonomi dengan ekonomi AC juga sepertinya tidak ampuh karena harga tiketnya yang saya rasa memang mahal. Pada akhirnya kereta ekonomi ‘butut’ semakin menumpuk dengan penumpang yang kurang mampu untuk membeli tiket ekonomi AC.
Namun, kita tetap perlu menghargai usaha PT. KA dalam menertibkan train commuter di Jakarta ini. It’s better than never, but it will be more better if they put more effort onto it. ^^
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.




