Lebih bodoh mana…
November 28, 2008 at 14:19 | In Life | 1 CommentKata orang bijak nun jauh disana, keledai pun tak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Tapi kenapa saya yang sudah kuliah 3 semester ini, selalu saja jatuh ke dalam sebuah lubang yang bernama “Kemalasan”?
Saya sadar kalau saya itu orangnya pemalas dan tahu apa yang akan terjadi kalau tetap mengikuti sifat malas ini. Sudah berulang kali ada tugas yang jangka waktu pengerjaannya cukup lama, tapi masih saja saya kerjakan 3 hari sebelum tanggal pengumpulan. -_-
Jadi, apakah saya lebih bodoh daripada keledai?
Untuk apakah kita belajar?
Oktober 15, 2008 at 19:05 | In Life, Opinion | 3 CommentsKetika ada worksheet suatu mata kuliah yang beberapa jam lagi harus dikumpulkan namun saya masih kurang memahami materi di worksheet tersebut, ada dua pilihan yang bisa saya pilih:
- Kumpulkan apa adanya, karena hanya memang mengerti segitu. Berarti saya harus mempelajari lebih materi tersebut di luar jam pelajaran.
- Mengerjakan bersama teman. Mungkin teman tersebut boleh secara langsung ada di hadapan kita atau tidak. Tahu kan kenapa saya bold (dan italic pula) kata ‘bersama’ itu?
Jika saya memilih pilihan nomor 1.. ok, berarti saya memang kurang menguasai materi tersebut atau kurang berusaha untuk dapat memahami materi tersebut. Masalah nilai itu di tangan dosen, dengan kemungkinan nilai yang akan saya dapatkan mungkin di bawah rata-rata teman-teman saya yang mengumpulkan worksheet terisi penuh.
Jika saya memilih pilihan nomor 2.. hmm, tidak direkomendasikan dalam lingkungan akademis sebetulnya, tetapi.. demi nilai gitu loh. Yang penting gue lulus.. masalah mengerti atau nggak, itu belakangan.
Apakah kita mau dengan jujur mengakui bahwa kita tidak mengerti dengan materi pelajaran tersebut, atau kita lebih mengagungkan nilai dibandingkan dengan pemahaman kita mengenai materi pelajaran?
Sekian. Terima kasih.
Harapan Dari Kesan
September 4, 2008 at 21:38 | In Life, Opinion | 5 CommentsDalam minggu-minggu awal kuliah ini, sudah merupakan kebiasaan jika ada mahasiswa-mahasiswa angkatan baru yang disibukkan untuk berkenalan dengan kakak-kakak seniornya. Menyenangkan memang, melihat mahasiswa-mahasiswa baru yang masih lugu, imut, lucu-lucu, dan penuh semangat dalam menyambut kehidupan kampus. Salah satu hal yang mereka harus dapatkan adalah kesan yang ditulis oleh senior atau oleh mahasiswa baru sendiri mengenai kakak senior yang berkenalan dengannya.
Bagaimana dengan kesan-kesan yang telah saya dapatkan sejauh ini? Mungkin saya akan memberikan beberapa komentar mengenai kesan-kesan tersebut disini…
- “Asik” /* Hm..? Sejak kapan ya saya orangnya asik? Sejauh ini saya orangnya cenderung serius. ^^; */
- “Ramah” /* Relatif ya.. Saya sering lho jalan lewatin orang dengan begitu cueknya. :p */
- “Jawa medhok” /* Aku ora iso boso Jowo dengan lancar kok dibilang medhok? Yah.. kadang memang logat bicara saya rada medhok. ^^ */
- “Komunikatif” /* Manusia 1/3 hikikomori ini dibilang komunikatif?!
*/ - “Otaku” /* Akhirnya… ^^ *mengepalkan tangan kanan sambil terharu* */
- “Anak **” /* Apapun jurusan dan jalur masuknya, minumnya teh botol S***o kita semua itu belajar di fakultas yang sama.
*/ - “Belum kawin” (kalau tidak salah) /* Ok.. kesan yang kreatif.. ^^; */
- “Suara berat” /* Padahal saya pingin lho punya suara seperti Sakura Saori atau Sakakibara Yui.. =)) */
Terlepas dari kemungkinan beberapa komentar saya yang mungkin ada nada sarkasme atau ironi di dalamnya, saya juga berharap kesan-kesan positif yang telah diberikan oleh para mahasiswa baru itu merupakan doa bagi saya untuk dapat memperbaiki sisi kemanusiaan saya menjadi lebih baik. Amin!
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.



