Koran Warta Kota akhir-akhir ini headline korannya benar-benar menarik perhatian saya. Tanggal 20 Februari kemarin headlinenya berjudul “Remaja Maniak Game Porno”, lalu esok harinya berjudul “Orangtua Resah Game Porno”. Iseng punya iseng, saya coba beli saja dua edisi Warta Kota itu. Setelah dibaca perlahan-lahan dan secara seksama (terlalu hiperbolis ya saya?
), hati saya tergelitik untuk sedikit mengomentari akan permasalahan mengenai game porno ini.
Dalam industri game barat, terdapat beberapa organisasi yang bertugas memberikan rating terhadap game-game yang dikeluarkan oleh para developer dan publisher game. Ambil saja contoh organisasi tersebut adalah ESRB (Entertainment Software Rating Board). Sering bisa dilihat di pojokan gambar cover suatu game ada logo bertuliskan “E”, “T”, “M”, “A”, “RP”, dll. Itu label rating yang diberikan oleh ESRB terhadap game tersebut. Masing-masing label mempunyai arti, misalnya label “E” (Everyone) menunjukkan bahwa game tersebut layak dikonsumsi oleh kalangan umur 6 tahun keatas. Biasanya tertulis juga alasan apa saja yang membuat game ini layak diberi label “E” di cover game tersebut. Label-label tersebut punya maksud baik sebetulnya untuk mencegah anak-anak di bawah umur untuk memainkan game yang belum layak untuk dirinya. Namun, memang orangtua terkadang terlalu sayang kepada anak sehingga game yang sebetulnya belum layak dimainkan oleh anak-anak tetap saja dibelikan. Selain orangtua anak tersebut, terkadang penjaga toko game juga sepertinya tidak peduli dengan label-label ESRB ini. Yang penting bagi mereka cuma dagangannya laku. -_-
Ah iya, jadi ingat kalau saya hidup di Indonesia. Pasti akrab dong dengan game & software bajakan.
Nah, saya juga menemukan para pembajak itu sering memalsukan rating ESRB yang tercetak di cover DVD game. Jadi suatu game yang seharusnya mempunyai rating ESRB “M”, oleh para pembajak tersebut diganti menjadi “E”. Aduh.. cukup deh, saya no comment untuk yang satu ini. Sudah membajak, tambah membohongi konsumen pula.
Lalu.. bagaimana dengan saya sendiri? Sebetulnya saya sudah sering melanggar aturan ESRB itu sendiri kok.
Ketika saya masih SMP, saya senang sekali main, sebagai contoh saja, Grand Theft Auto. Gameplay game tersebut kurang lebih seperti mencuri mobil, bunuh-bunuhan antar gangster dan mafia, tabrak lari, dll. Jelas.. ini tidak cocok untuk anak-anak kan? Apa yang saya pikirkan dulu ketika memainkan game itu biasa saja sebetulnya. Niat untuk meniru adegan-adegan sadis tidak ada. Saya juga tahu kalau membunuh orang atau tabrak lari orang itu sangat salah untuk dilakukan. Yang penting adalah sadar diri untuk tidak melakukan yang aneh-aneh. ^^
Jadi ya… sebetulnya penting peran orang tua itu dalam menyeleksi game-game yang cocok bagi anak-anaknya. Game “keras” boleh, cuma orang tua harus ngasih tahu ke anak-anaknya kalau apa yang di dalam game itu tidak boleh dilakukan.
NB: Sebetulnya ketika lihat headline Warta Kota itu, hal pertama yang terlintas di benak saya adalah game-game dating sim dan visual novel dari Jepang, karena hampir semuanya pasti ada konten dewasanya. Tapi ternyata yang disinggung adalah game-game semacam Leisure Suit Larry, 7 Sins, dan Playboy The Mansion.







Wah, no komen… jarang banget main game
tenang bung,, kalo game/visual novel jepun yang dilengkapi konten yang ‘berbahaya’ itu belum terangkat ke permukaan…
gw juga tadinya nyangkain game2 yang entu,, tapi ternyata… Larry? Playboy mansion?? 7sins?? bah,, kurang menarik buat gw…
Bagusnya negara-negara barat biarpun hal-hal berbau sek*ual dilegalkan, tetapi mereka bener2 tegas. Kalo lo belum 18 tahun ya gak ada akses buat kesana. Kalo di Indo boro2. Biarpun illegal tapi anak2 SD juga bisa beli barang2 kategori haram di bawah umur (dalam hal ini film dan bacaan dewasa, rokok, minuman keras, bahkan drugs)
He eh. Itulah yang perlu disayangkan dari negeri kita tercinta Endonesia.
Wong yg dijual saja sudah ilegal sebetulnya..